Relung Mendung

Sesaat mentari yang sedang mendung,
melindungi dari teriknya membakar jiwa-jiwa keegoan,
dan mengundang kesepian diantara kebimbangan hati,
terhanyut akan awan kelam yang menyertainya,

Diantara denyut nadi yang terus tiada berhenti oleh waktu,
mengalir bersama deru angin diantara sela-sela kehampaan,
dan akan terus meretas setiap langkah untuk sebuah asa,
selangkah demi selangkah akan terus menjejakkan tiada henti pula,

Diantara keheningan bersama rumput yang gontai,
tertiup sang bayu menerobos hingga relung hati gundah,
dan akan terus menyusupi membawa sedu sedan hari terlampau,
tetapi hanya asa yang tertancap hingga kedalaman jiwa kan menyertainya,

Aku terbaring dalam keramaian dan kebisingan deru gelora,
tiada henti menyambar dan menampar hati sebuah kerinduan,
dan tatkala kesunyian dan keberadaan datang silih berganti,
menemani setiap mata ini terpejam dalam permadani keasaan,

Awan mendung itu menyertai setiap langkahku,
mendung dengan penuh makna diantara hati dan jiwa akan asa,
dan mendung itu justru membawa diri ini terdekap dalam teriknya mentari,
ditemani rerumbutan yang berbisik bercerita tentang malam-malamnya,

Senandung ini kembali Aku dendangkan,
untuk sebuah asa dan bercumbu dengan cinta,
mengisi relung kedalaman jiwa dan celah hati,
untuk tetap melangkah setapak demi setapak ...


Serang, 28 November 2011, 10.33 WIB

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites